Tulisan ini titipan dari seseorang, yang terbaca di deretas atas inbox email. Katanya, biar bisa dibaca di kemudian hari :)
Percayalah
Seperti matahari yang sulit bertemu bulan di atmosfer bumi
Langkah ku dihentikan oleh orbit yang sudah ditetapkan,
bukan oleh ku bukan oleh mu
Keinginan untuk berada di sampingmu, menggerus iman ku
Kadang membuat ku sulit bangun dari pembaringanku
Jauh, jauh sekali rasanya dirimu
Membayangkan jauhnya dirimu menyakiti sel-sel tubuhku,
Menyerang nya dengan jarum jarum tajam tanpa ampun
Tangisan ku tak kunjung membawa mu padaku
Setiap kali aku mengiba pada Tuhan ku, setiap kali aku memelas kepada Tuhan ku
Apa kau memang bukan untuk ku?
Seolah dapat memilih..
Sinar panas mentari atau cahaya sejuk rembulan
Kepastiannya sederajat dengan kematian, sudah ditentukan bahkan sebelum mulai semua zaman
Kesombongan, yang membuat mu menerka nerka dengan harapan
Lantas tak kunjung tercipta yang kau harapkan
kau salahkan Dia yang punya jalan
Sudah ditentukan, maka jangan kau hilang harapan
Sudah ditentukan, maka jangan terlalu lama kau biarkan air mata menggenang
Pilihan itu, bukan kau yang tentukan
Biarkan saja, ditentukan oleh-Nya. Kelak saat waktunya tiba. kelak saat kau memang membutuhkannya.
Tak apa kau menangis malam ini.
Tak apa kau bersedih malam ini.
Asal tunai kewajiban, bersedihlah
Luapkanlah..
Hatimu tak sekuat itu, aku tau
Dirimu terbebani diri sendiri, aku mengerti
Beban itu terasa berat di pundakmu
Pundak yang mungkin tak sekuat dahulu, dahulu ketika kau punya pundak lain untuk dirimu
Aku ingin kamu mengingatnya, kesedihan ini, kesepian ini
Sehingga nanti bila tiba waktunya
Tak kau sia siakan semua
Tak kau biarkan semua berlalu percuma
Ingatlah kesepian ini, ingatlah kesedihan ini
Ingatlah ratapan tangisanmu di malam hari ini
fana...
Dunia ini..
Aku ingin terkulai mati disini..
Disini, malam ini..
Kadang lelah bermimpi..
Berusaha merangkai nya kadang buat ku tak terkendali
Lagi,
Aku iri,
Dengan mereka yang tak mengambil jalan yang rumit ini
Akan jadi apa nanti?
Sungguh sangat khawatir diri ini
Terbersit makian untuk diri sendiri
kau terlihat kacau
Kenapa kau lakukan itu?
Mudah tak kau tempuh sulit kau buru
Tak ingin bahagia dengan semua kepastian yang menunggu depan mata?
Lantas mau kemana keinginanmu?
Sempurna diri tidak mungkin hadir dalam kesulitan
Sempurna diri butuh kemapanan dan keamanan
Setidaknya tidak mungkin! Tidak di dunia tempatmu berdiri
Sesaki terus tubuhmu dengan racun yang perlahan membunuhmu
Membangkitkan musuh yang sudah lama coba kau kubur
Kamu hancur
Hancur lebur!
Berbelok ke jalan ini, tentu kau tau konsekuensi
Sulit menerpa dan sekarang kamu sendiri!
Bodoh, kamu bodoh!
Kemalasan? Amarah? Putuskan sesuka hatimu karena ini hidupmu!
Itu yang ada di otakmu?
Banyak orang berharap padamu
Apa kamu tak punya harapan untuk dirimu?
Masa depan.
Tak melihat kau kemapanan sudah terpampang di sepanjang horizon
Tinggal kau lari tuk dekati
malah berbelok sampai terperosok ke gorong" kebinasaan!
Ini yang kau inginkan? Terjerembab dalam lumpur bau yang memuakkan?
Dalam selokan yang berisi kumpulan orang terbuang!
Bodoh! Kamu bodoh!
Menggantung di dalam benakmu
Semua yang tadinya telah engkau putuskan tanpa ragu
Kini mulai goyang keyakinan itu
Saat kalbu terusik karena keinginan yang tak kunjung jadi kenyataan
Mulai bertanya apa jalan ini sesuai dengan ketentuan
Gelisah tak menentu tak usah ditanya
Garis hitam di bawah mata jadi buktinya
Kuakui Hampir hancur selera untuk menikmati perjalanan ini
Terlalu jauh, jauh sekali
Apa ini rasanya mimpi yang mulai kabur
Getir tak kunjung terkubur
Hati yang gundah tak ada obatnya
Tubuh yang tak kunjung sempurna mulai meregang nyawa
mampu kah kamu bertahan hai jiwa dalam raga
Mempertahankan yang kamu coba dirikan
Bertahanlah, bertahan
Perlahan saja, perlahan
Bangun lagi impian, bangun lagi harapan
Tengok dengan seksama rumah yang coba kau bangun itu kawan
Tiang sudah menancap kuat di tanah,
Sungguh tak bisa lagi tampaknya hati khawatir melihat nya, jangankan angin, ganas ombak samudera pun tampak mampu dihadangnya
Sekarang tentukan, ingin seperti apa kau membangunnya
Pikirkan, karena akan kau tempati seumur hidup mu
Perlahan, karena tak mungkin jadi dalam semalam
Bersabar, karena cobaan akan datang..
Tapi tenanglah, selama kau jalankan kewajiban mu
Selama kamu lakukan hal yang harus kamu lakukan
Selama itu kamu lakukan, tenanglah.
meski kabut semakin pekat
Dan malam akan semakin gelap
Janji kuat yang memastikan terbitnya cahaya itu
Percayalah..
Anonim
Di inbox email.

Apapun yang kakak tulis, itu bagus banget dan aku selalu suka :)
ReplyDeleteboleh jadi fansnya kakak? :D
boleh minta alamat email? :D
kadang ragu, kadang lelah, tapi kemana kita harus percaya? ketika semua semu dan palsu.
ReplyDeleteNgg....
ReplyDelete:)