MENGUNJUNGI Baduy pernah tertulis di kertas mimpi saya di September 2013 lalu. Sayang, sampai penghujung tahun gak kunjung kesampaian.
-----
Baduy, lalu akhirnya jadi mimpi destinasi 2014 bareng Green Bay, Dieng, Peucang, dan beberapa tempat lainnya. Gue amat giat cari info sana-sini soal tanah ini. Makin di-googling, niatnya makin menjadi bola salju; makin besar dari hari ke hari. Sampai akhirnya bulan April ketemu sama postingan mbak Siskom di forum BPI (Backpacker Indonesia) yang akan ngadain open trip 3 hari 2 malam. Dan tertulis tanggal, 9-11 Mei. Gue menggigit bibir. Salah satu tanggal di antara itu, adalah hari; yang tepat setahun lalu pernah kami perjuangkan.... (-- Maaf)
---
Jumat, 9 Mei 2014.
Waktu itu pukul 04.00. Saya dan Umil berjalan terkantuk-kantuk
menyusuri Bara. Menuju meeting point paling mainstream se-IPB : BNI. Masih ada
3 teman lainnya; Suhu, Tino, dan Faisal. Kami meluncur naik angkot Kampus
Dalam-sambung angkot 03 ke stasiun. Sampai di stasiun bogor 04.55, sholat Subuh
disana, dan naik KRL Jatinegara keberangkatan 05.16. Ternyata jam segitu kereta
lagi sesak-sesaknya; penuh sama mereka yang mau mencari peruntungan di ibukota.
Jam 07.00 kita berhasil mendarat di stasiun Duri, tempat meeting point bareng teh Siskom dan geng.
Kita cari tuh, gerombolan orang dengan tas gunung dan bawaan segunung. Pasti
mereka rombongan kita. Dan hap, benar! Ada 18 orang yang ikut rombongan ini.
Kami 5 diantaranya. Sisanya didominasi teteh-teteh dan akang dari Bandung, ada yang dari
Unpad dan sebagian lainnya dokter-dokter muda Unjani. Ada juga abang-abang
dari Jogja, dari Jakarta, dan sekitarnya. Intinya, kami, 18 anak (sangat) muda
yang siap bertualang! 18 mahasiswa yang rata-rata tingkat akhir, dan baru lulus.
Ketinggalan Kereta.
Salah satu awkward moment adalah di jam 07.25 (sesuai jadwal di tiket),
kereta yang kita tunggu datang. Saya dan sebagian rombongan berlari-lari kecil
menyeberangi rel. Begitu pintu kereta kebuka...... baru sadar sebagian
rombongan terjebak di area penyeberangan, tepat terhalang kereta yang harusnya
kita naiki.
...
Yassalam, akhirnya kami merelakan keretanya melaju begitu saja.. Sambil melihat pasrah ke tiket di tangan, "Yah... lewat.."
..
Selebihnya diurus Mbak Sis. Sampai akhirnya kita bisa naik kereta
berikutnya yang akan datang 45 menit kemudian (yang kalau ini kelewat juga, berarti fix gak jadi ke Baduy, karena
gak ada kereta lagi kecuali sore).
Perjalanan Menuju Cijahe
Jangan bayangkan KRL, atau kereta api jarak jauh. Ini kereta ekonomi
yang ayam dan kambing-pun rasanya masih bisa masuk. Kursinya 90 derajat, dan
tentu tak empuk. AC? Kipas anginpun gak ada. Tapi gue pribadi menikmatinya, dan
sesekali sibuk mengarahkan mata kamera ke beberapa titik. Pedagang asongan
berlalu lalang, menjajakan Sanqua sampai nasi uduk.
![]() |
| Waktu kereta belum ramai |
Waktu sisanya kita habiskan buat tidur.
...
Sekitar jam 11, kereta masuk stasiun Rangkasbitung. Berburu kita turun,
sambil menggondol tas ala-ala anak gunung. Di stasiun ini kami dijemput Kang
Emen, seorang Baduy Luar. Dia sudah siap dengan ELF sewaan kami yg sudah
menunggu di luar stasiun.
Perjalanan menuju Cijahe rasanya panjang betul. Terik, dan berliku.
Dari ramai, mulai sepi, makin sepi, sampai cuma ada pepohonan. Dari melek, becanda, cerita kuliah masing-masing, tidur, melek, ketawa, tidur lagi. Rombongan kami memang ga lewat jalur biasa Ciboleger. Tapi sengaja dipilihin rute Cijahe biar bisa langsung masuk Baduy Dalam tanpa lewatin Baduy Luar dulu.
Belum sampai Cijahe, ELF berhenti di sebuah warung. Kita semua turun.
Ternyata si ELF cuma bertugas sampai disini, dan selanjutnya kita harus offroad dengan mobil pick-up yang juga sudah menunggu di warung itu. Bayangin deh,
belasan tas gunung, ditambah teng-tengan ini itu, ditambah 19 penumpang ada di
satu mobil pick up kecil, dan bersiap offroad!
Huwaaaah. Entah kenapa gue amaat bahagiaaa dengan perjalanan bareng mobil
ini. Dan milih duduk di besi pinggir pick up. Serunya, perjalanannya betulan
offroad. Gak bisa gambarinya gimana, yang jelas mobil ini dengan gagahnya
melewati tebing, pohon-pohonan yang seringkali kepentok-pentok kena kepala,
turunan terjal, jurang, naik lagi, lewat lumpur, kegencet batu, dan seterusnya. Tapi
percayalah, ini seru.
![]() |
| Begini kurang lebih 'pemandangan'nya :D |
Setengah jam kemudian, mobil merapat ke sebuah gubuk. Disini udah berkumpul dengan amat ramainya lelaki tua-muda-kecil,
mengenakan putih dan hitam. Mereka menyambut kami. Selamat datang di Baduy.
Selamat Datang di Baduy
Senyum hangat, lemparan gurau, menjadi sedikit pelepas lelah pasca
perjalanan 10 jam sebelumnya. Dan awal untuk (oh) beberapa jam (penuh absurd) ke
depannya.
.....
Setengah jam pertama.. Rombongan masih berderet-deret lengkap, sambil
berkali-kali mengambil nafas, mengelap keringat, dan menipiskan persediaan air.
Perjalanan terus menanjak, terus, terus dan terus.
Tenaga terus menyusut, terus, terus, dan terus.
..
Sambil jalan kami terus melempar topik obrolan. Tapi mata ga pernah
melihat kemanapun, kecuali ke bawah. Oleng dikit, habis sudah. Pilihannya, kalau gak
kepeleset, mungkin terguling ke jurang..
Amboi, di tengah hamparan ladang dan bukit ini, siapa pulalah yang ga
menikmati. Walaupun kaki sama pundak udah teriak-teriak. Sesekali saya dan
teman-teman bermain sama anak-anak Baduy yang amat lincah. Kakinya menari-nari
di atas tanah nan licin. Melompat kesana kemari, lihai tanpa jatuh. Matanya
bercahaya.
Tuhan, meski seumur hidupnya mereka hanya akan kenakan hitam dan putih, tapi hidupnya sungguh hidup, penuh warna dan gelak tawa.
“... Menarilah dan terus
tertawa.. Walau dunia tak seindah surga.. “
Bahagia begitu tanpa syarat baginya. Tanpa perlu iPhone di tangannya. Tanpa perlu mengenal games Angry Bird dan sebangsanya. Tak butuh mengenal artis-artis Korea. Tak
begitu peduli malam tanpa listrik, apalagi tontonan Idol.
“... Menarilah dan terus
tertawa.. Walau dunia tak seindah surga.. “
....
Matahari mulai turun.. Langit mulai abu..
Sudah tiga jam perjalanan. Puluhan botol aqua oleh rombongan ini habis
sudah. Setetes air rasanya priceless.
Banyak yang terpeleset.
Sendal Boogie mulai berat. Menebal sekian kali dari aslinya karena
tertempel lumpur. Sesekali gak bisa terangkat karena tertahan tanah, sementara
kaki satunya udah melangkah; akhirnya gak punya pilihan lain kecuali terpelanting.
Frustasi, gue buka sendal. Nyeker. Awalnya menyenangkan. Lama-lama,
terseok. Licin, terpelanting lagi.
...
Jam menunjukkan sekitar pukul enam. Suhu yang beberapa langkah di
depan, tiba-tiba menghentikan langkah. “.. Kenapa suh?”. Saya mensejajari
tempat berdirinya. Mendesahkan nafas. Ikutan terdiam. Memandang jingga ke ufuk
sana. Beriak-riak di kaki bukit. Tuhaan! Indah sekali...
...
Empat jam perjalanan. Langit sepenuhnya gelap. Tanda-tanda akan sampai
belum ada. Semua alat penerangan sudah kami nyalakan. Dari headlamp sampai
senter. Tenaga rasanya udah ga ada lagi. Airpun.
Rombongan udah kepecah-pecah. Sampai akhirnya kami yang termasuk
golongan depan, dikomandoi untuk berhenti dan menunggu semuanya lengkap. Kita
pun diarahkan menunggu di bawah lumbung padi. Entahlah; urat takut rasanya udah
putus. Takut hehantuan dan sejenisnya. Semua kalah.
Gak beberapa lama, rombongan akhirnya lengkap lagi.
Para Baduy yang jumlahnya juga sepertinya belasan (termasuk anak-anak),
tampak berdiskusi. Di tengah-tengah obrolan mereka, artinya kurang lebih
begini; “Gimana kang? Belum sampai-sampai juga. Kita mau lewat kuburan aja,
atau lewat sungai yang biasa mandiin mayat..?”
...........
Glek.
..........
Atuhlah. Sekarepnya.
.........
“Berapa lama lagi a?”, “Masih ada tanjakan lumpur lagi gak, kang?”, dan
pertanyaan-pertanyaan sejenis gak bosan-bosannya kita tanyain ke akang-akang
Baduy ini. Jawabannya flat. Setengah jam lagi~. Tapi tiap ditanya jawabannya
tetep :(((((
....
Sekitar jam setengah delapan, kami mendengar sayup-sayup suara aliran
sungai. Dari kejauhan tampak jembatan gantung. Mendekat, makin dekat, oh
kehidupan!!!
Finally. Selamat datang di Cibeo :')
Disinil, di desa inilah kami akan tinggal. Di satu-satunya sudut di Baduy Dalam yang
boleh menerima tamu menginap. Kami menemukan wajah-wajah bercahaya nan cantik dari gadis
dan ibu-ibu disana. Anak-anak perempuan yang lucu dan menggemaskan, semuanya,
sekali lagi, tampak sangat cantik. Mereka tampak duduk-duduk bersantai di teras,
mengobrol, dan lain-lain.
Sampai pada rumah tujuan, kami menjatuhkan diri seenaknya di teras
rumah warga, yang seutuhnya terbuat dari bambu. Membebaskan pundak dari tas yang
sungguh berat. Membuka sisa-sisa air, dan apapun yang bisa di makan. Istirahat
sebentar, kami kemudian diantarkan ke pancuran untuk keperluan membersihkan
diri, dan lain-lainnya. Ketemu air seperti ketemu surga. Dingin dan
segarnya, tetiba seperti gak ada yang menandingi nikmatnya. Hahahaha.
Ohya, disini, meskipun perkampungan, semuanya tetap gelap. Untuk
menuju pancuran kita bahkan melewati jembatan dan hutan, yang semuanya hanya
mengandalkan sinar headlamp. Kami
saling menunggui dan berjaga untuk mandi dan lainnya. Karena semuanya adalah
ruang alam, ruang terbuka. Tanpa bilik.
Puas bersih-bersih diri dan ambil wudhu, kami kembali ke rumah Kang
Safri, akang paling hits se-Cibeo, yang jadi tuan rumah kami. Setelah sholat, mengeluarkan
beberapa logistik bahan makanan mentah, sedikit bantu-bantu masak, saya dan
teman-teman memilih duduk-duduk di teras luar. Menikmati malam bersama kearifan
Baduy.
Saya dan Umil mengeluarkan catatan masing-masing; kembali mengingat-ingat apa yang sudah kita lewati seharian ini. Umil mencatat semuanya di kertas. Kami ditontoni beberapa anak Baduy saat itu. Sesekali kami ajari mereka menggambar; tapi niat menggambar ayam malah terlihat seperti burung yang kena flu.
Saat itu; ingat betul, kami menyaksikan kunang-kunang beterbangan kesana kemari. Ingat betul, saat merebahkan diri dan memandang ke atas, ada atap langit yang begitu terang. Iya, langit tentu akan tampak benderang saat di sekitar kita tanpa cahaya.
Saat itu; ingat betul, kami menyaksikan kunang-kunang beterbangan kesana kemari. Ingat betul, saat merebahkan diri dan memandang ke atas, ada atap langit yang begitu terang. Iya, langit tentu akan tampak benderang saat di sekitar kita tanpa cahaya.
Malam itu, kami menghabiskan waktu dengan hangat bersama keluarga Kang
Safri, sambil menyiapkan makanan untuk santap malam kami.
Malam itu, kami menutup mata, dengan kehangatan dan senyum tulus dari
kearifan tanpa batas, milik suku Baduy..
Bersambung.
NB : Tak banyak foto di hari pertama. Di Baduy Dalam, menggunakan kamera adalah haram.
NB : Tak banyak foto di hari pertama. Di Baduy Dalam, menggunakan kamera adalah haram.










0 comments:
Post a Comment
Please leave your comment here :