Teman terbaikku pulang, tanpa bisa aku ucap salam untuk terakhir kali.
Robby Rifal Hamdani.
Aku mengenalmu sejak 17 tahun lalu. Rekam wajah kecilmu, tawa riang kita, diantara ayunan dan perosotan TK Aisyah, sekarang berputar-putar hebat dikepalaku.
Masih ingat saat kita di daun pintu kelas, bertukar cerita soal Dono Kasino Indro. Tertawa lepas, antusias tanpa batas. Juga masih terbayang jelas, saat giliranmu disuruh membaca surah pendek di depan kelas. Selalu bercanda, dan akhirnya diomeli Bu Aini. Kau selalu begitu sejak dulu.
Lepas masa SD, kita bertemu lagi di sekolah yang katanya nomor satu di kota kita. Bersama untuk bilangan waktu enam tahun berikutnya. SMP dan SMA 1 Singaraja. Disini semua memori ini dimulai..
Tukang Ngadu.
Hubungan yang bukan sekedar teman. Keadaan yang justru kita manfaatkan untuk saling mengadu ke ibu masing-masing soal tingkah kita di sekolah. Aku yang selalu bingung kenapa Ibu bisa tau nilai-nilaiku atau kelakuanku di kelas. Atau Ibumu yang selalu mengomelimu gara-gara aku sering mengadu soal semua kenakalan dan tingkahmu.
“Heh. Kemarin bilang apa ke ibu aku?”.
Pertanyaan rutinan kita di hampir setiap hari. Selalu, dan selalu ada bahan yang kita adukan. :’)
Saingan
Hobimu, adalah membandingkan nilai-nilaiku dan nilaimu. Ah. Tentu saja aku jauh lebih pintar, kawan. Meski sesekali ada satu dua nilai yang bisa kau susuli. Itu pasti jadi kebanggaan besar buatmu. Kemudian dalam hitungan menit, berita itu akan sampai di ibumu, kemudian ibuku.
Masa Putih Abu
Kita tumbuh bersama. Ritual kita pun masih serupa. Saling mengadu, dan terus "bersaing". Di kelas IA7, kita duduk sejajar dan berdekatan. Kamu dan Udak duduk di depanku dan Kusdev. Setiap hari selalu ada saja tingkah hita. Menghitung jumlah parkiran motor, ngetest guru di kelas, sampai berbagai macam hukuman yang kamu terima. Ya, memori itu sekarang bertebaran pasrah di kepalaku. Kamu juga tentu ingat tentang The Rainbow, angkatan kita yang menyenangkan.. tentang hukuman-hukuman masa SMA. Saat kamu, Udak, Herby dan Novta dihukum berdiri depan kelas, sambil memegang kuping. Dan aku terus meledekmu dari bangku. :)
Beberapa bulan lalu
Selepas SMA, kamu bersama Brawijaya-mu, dan aku dengan IPB-ku. Sesekali kita bertukar kabar. Mengobrol hebat soal Gie, atau sekedar candaan ringan seputar akun anak mudaku. Sungguh menyesal, untuk mengingat ajakanmu di beberapa bulan lalu, untuk datang ke Solo. Ke tanahnya Jokowi. Kau bersemangat sekali mengajakku. Ah. Seandainya aku jadi datang, setidaknya kita membuat kisah yang mungkin bisa aku ingat sekarang.
15 April 2013.
Sampai hari itu tiba. Sebuah telepon di pagi buta membangunkanku. Dari Ibu. Suaranya berat, Fal. Dan aku mendengar isak tangis diantara itu. Sebuah berita, yang berhasil merusak hariku. Menusuk nadiku. Dan entah dengan apa melubangi hatiku. Dalam.
Teman baikku meninggal dalam perjalanan menuruni puncak Gunung Sumbing. Teman baikku pergi tanpa pamit. Teman terbaikku pulang, tanpa bisa aku ucap salam untuk terakhir kali.
Tante Kartika
Kamu anak kesayangan dan sungguh kebanggaannya. Melayang-layang dibenakku, apa yang dirasa Tante Kartika. Dan benar, cerita Ibu tentang keadaan Tante sekarang buat aku semakin perih. Tante berteriak-teriak hebat, dan cuma bisa menangis di pelukan ibu. Bersikukuh kau masih ada, dan semuanya cuma candaan. Menggumam, dan membentak..
Ah Tante.. Terimakasih untuk masih mengingatku di sela-sela semua sedihmu. Terimakasih untuk masih sekedar menanyakan apa aku sudah tau kabar ini atau belum..
Dan Tante, Rifal sayang Tante.. Sangat.
Pembaringan Terakhir
Hari ini kamu menyatu dengan tanah.. Kata ibu, jasadmu yang baru sampai di pagi tadi, ada bekas luka dan darah di bagian kepala.. Ada sisa api akibat sambaran petir itu..
Kau tau? Membayangkanmu sama seperti mengiris urat nadi.
Maaf untuk semua hal, Rifal…
Terimakasih untuk 17 tahun berharga, yang ga akan aku lupa seumur hidup.
Selamat Jalan, SAHABAT TERHEBAT.
Selamat Jalan..
“Dan pada akhirnya, bunga yang indah itu akan layu dan mati.” – Robby Rifal Hamdani, 9 April 2013.


Cubek..
ReplyDeleteterharu bgt baca tulisanmu yang ini. sama bek walaupun aku ga selama km berteman sama rifal, tapi kebersamaan sama rifal masih sangat terasa. anak yg jail, usil, nakal, bandel, cerewet, dan semuanya. akan selalu dikenang - rifal!!!!! sampai jumpa di tempat yg nantinya lebih menyenangkan kawan!
bek bukan 15 desember 2013..
ReplyDeleteah ya.. corrected. thanks barong :)
ReplyDeleteso deep .bacanya saat hujan turun lagi . meski aku ga kenal tapi aku tau makna seorang sahabat . aku ga bisa bayangin kalo aku ada di posisi itu. kehilangan sahabat :(
ReplyDeletedia memangg telah tiada di bumi ini tetapi dia masih bisa hidup selamanya di hati ratna :)
cubekk
ReplyDeleteMakasih bek km dah masukin namakuu... Untung aq bisa msih bisa dket sama rifal smpe skrng.. Dri kita SMP dlu beq , smpe skrang..
ReplyDeletemerinding gw bang bacanya, deskripsinya jelas kebayang
ReplyDeleteWhen you miss someone so much but you will never ever meet him, a prayer can.
ReplyDeleteMinta Al Fatihah nya :)
betapa tersurat jelas sedihmu bek.. .
ReplyDeletekita doakan yang terbaik ya buat rifal :)
kita disini pun hanya menanti giliran toh. tidak ada yang benar-benar pergi.
walau ga kenal, tapi ikut merasakan kesedihannya... semoga temennya ratna berbahagia disana.. amien..
ReplyDeleteTerbawa suasana membacanya ... kaka ratna ..sabar ta .semoga tmn kk diterima amalannya amin.... :):)
ReplyDeleteWah dibaca Mojang Bogor :")
ReplyDeleteHehe, aamiin...
maaf sedikit ralat:
ReplyDelete1. kejadian bukan saat kami perjalanan ke puncak tapi kami sudah di puncak
2. lokasi bukan di gunung Sindoro, tp Gunung Sumbing