Ratna Sofia

Author

Sebuah Titipan III

Leave a Comment
Kata orang, menulis bisa mengangkat sedikit beban. Semoga demikian halnya dengan si pemilik tulisan. Tulisan ketiganya di blog ini --

Si penulis meminta saya untuk memberi judul. Tapi biarlah tulisan ini tetap utuh adanya.

Tanpa Judul

Luas tapi tak cukup lapang
Indah tapi tak menentramkan jiwa
Kendati mulai bertumpukan dengan harta
Kendati membuat iri bila dipandang mata
Tak pernah sama bukan yang dulu dengan yang sekarang
Tak pernah sempurna bukan sesulit apa pun kamu mencoba menyempurnakannya
Samar kuingat kebahagiaan yang pernah ada
Tapi lebih nyata kebencian yang kalian tebarkan di masa itu tiba
Kenapa kalian melakukannya?
Saat tanggung jawab tak lagi kalian emban berdua
Kalian bersaing untuk sesuatu yang harusnya bisa kalian bagi dua
Aku terluka, kami terluka
Kalian tak bisa melihatnya
istana indah yang sekarang kalian punya
Menyedihkan tanpa cinta
Megah terlihat..
Lemah yang nyata..

Sungguh aku merindukannya
Aliran tawa yang melepas dahaga
Untaian kata yang melenyapkan gelisah
Bahkan aku merindukannya, amarah yang terlepas tiada guna
Kerongkonganku kering kerontang karena kesendirian
Haus ku menggila lantaran tak kunjung kutemukan pelepas dahaga
Aku kering, mengering dan semakin mengering

Dusta saat ku berkata ku tak kenal bahagia
Hina jika ku tak mengakui cinta yang mengalir sepanjang masa
Tapi sungguh ku merasa kerjamu tak sempurna
Sehingga aku masih harus berjalan sendiri setelah kau tinggalkan aku disaat aku masih terlalu muda
Kau cukupi ragaku tapi tak kau sentuh jiwaku
Kau sebutkan jalan mana yang harus kutuju tanpa kau tunjuk dengan telunjukmu
Kau bahkan tak ada disisi ku saat aku bergumul dengan nafasku

Tak ku ingkari mulia apa yang kau lakukan
Memberi kail kepada mereka yang butuh ikan
Memberi pelita bagi mereka yang tersesat di kegelapan
Tapi kenapa harus aku yang engkau korbankan?
Bukankah aku beban yang lebih utama untukmu
Mengangkat ku ke pangkuanmu saja kau tak ada waktu
Cerita" kehidupan ku tak banyak kau tau
Kenapa kau seperti itu?
Sungguh aku tak tau mana yang benar
Salah juga tak seharusnya aku yang tentukan
Yang aku tau sungguh aku terluka
Bukan ku tak peduli pada mereka yang kau beri harapan
Tapi kau putus harapan ku padamu
Kau korbankan waktu yang seharusnya menjadi hak ku
Tanpa kau minta persetujuanku
Tahukah kau aku menangis setiap kamu pergi?

Ku ingin terpejam sepanjang hari
Aku ingin terbaring menunggu mati..
Ku ingin gelap di sekeliling diri
Cahaya mu sekarang menyilaukan mataku
Memancing sesak dadaku,
mengganggu tenangnya hari hari ku,
menimbulkan kemarahan yang tak kuasa ditahan
Sesuka hati kau terbit dan terbenam setiap hari
Andai berdaya tuk pergi tentu tak mungkin kukotori hati ini
Tapi apa daya, kaki terpasung, tangan terikat, benci ini terpaksa menemani
Benci yang meracuni semua, diri ini dan sekelilingnya
Diri ini dan semua yang disentuhnya

Pikiranku, berubah seiring waktu
Tanpa kamu tau aku berusaha berdiri di atas kedua kaki ku
Dulu kupikir dunia ini dibangun dengan aku sebagai pusatnya
Dimana hal yang ada di sekitar ku adalah apa yang diciptakan sesuai dengan kebutuhan ku
Dimana saat itu, aku merasa dunia ini segalanya tentang aku dan permasalahanku
Saat itu juga, aku merasa mereka yang ada di sekitar ku hanya muncul ketika aku bersinggungan dengan mereka,
Lantas menghilang tak ada ketika ekor mereka tak lagi terlihat sejauh pandangan mata
Yang kurasa tak sepenuhnya benar, tentu tak sepenuhnya salah juga
Tapi saat ini, kupikir ini semua lebih rumit daripada yang dulu kurasa
Dunia ini memang tercipta dengan kita sebagai pusatnya
Begitu juga dunia mereka yang bersinggungan dengan kita
Diciptakan dunia untuk masing-masing mereka dengan mereka sebagai pusatnya
Dimana kita juga hanya “mereka” yang bersinggungan dengan “aku” yang lainnya
Aku tak pernah memikirkan dunia itu
Aku hanya melakukan apa yang aku inginkan tanpa memikirkan pengaruhnya terhadap dunia mereka

Dunia mereka, tak kusangka itu ada
Karena aku terlalu lama hidup di duniaku
Dunia dengan aku sebagai pusatnya
Sungguh ku berharap suatu saat aku akan bisa
Membuka mata akan keberadaan dunia mereka
Dan mendapatkan apa yang lebih baik dari yang saat ini aku punya

Aku sadar sekarang, duniamu
Dunia dengan kamu sebagai pusatnya
Aku mengerti kenapa dulu kamu begitu
Mungkin kamu belum bisa melihatnya saat itu, keberadaan duniaku
Dunia yang kadang bersinggungan dengan duniamu
Kali ini, kan kucoba perbaiki semua
Pandanganku, pandanganmu
Rumah megah itu
Dan kan kuciptakan sendiri penawar dari racun benci itu
Agar semua berubah
Agar dahaga itu terpuaskan dengan sempurna
Agar aku dan kamu bisa kembali bahagia,
Di duniaku, dan di duniamu

Anonim.


Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 comments:

Post a Comment

Please leave your comment here :